Kamis, 15 Januari 2015

Cara menutupi kesedihan dari publik


Mungkin diantara anda ada yang ingin bisa menutupi kesedihan dari publik, seakan akan tidak terjadi apa apa. Tentu saja sangatlah sulit melakukannya. Diantara harus sabar, anda juga harus menahan "protes" dari dalam tubuh anda sendiri. Ini tips tips dari pengalaman yang udah pernah dirasain oleh saya.



1. Kuatkan niat

    Segala sesuatu berawal dari niat, begitu juga dengan menyembunyikan perasaan sedih. Niatkan diri anda bahwa anda mampu mengalahkan perasaan anda.


2. Buat motto/kalimat penyemangat


Kalau saya punya motto "conceal, dont feel, dont let them know" (tahan,jangan dirasakan, jangan sampai mereka tahu) terinspirasi oleh film animasi frozen hehehe... . Tapi itu ngebantu banget. Jadi kalau anda merasa ingin menangis di depan umum anda hanya menggumankan kalimat penyemangat itu. Dari pengalaman saya, itu ngrbantu banget.


3.jangan mengungkit ungkit masalah


Di part ini tergantung keputusan anda. Ada beberapa orang yang jika membicarakan masalahnya, pertahanannya akan lepas (soalnya saya kayak gitu). Tapi jika anda ingin mengungkit masalah itu di depan sahabat anda, its okay


4. Bertingkah seperti biasa

cobalah bertingkah seperti biasa. Karena orang akan curiga dengan perubahan sifat yang signifikan. Seperti yang biasanya ceria, malah menjadi pendiam.


5.siapkan bahan bahan

Mata anda tidak akan berbohong jika habis menangis. Saya menyarankan untuk menaruh es batu yang dibalut oleh tisu ke mata setelah menangis. karena es batu dapat berfungsi untuk mengurangi mata sembab.


Itu tips simple buat anda dalam menyembunyikan perasaan sedih atau marah. 

Semoga bermanfaat :D

Minggu, 29 Desember 2013

CERITA PENDEK REMAJA.



Can You Guest What?

by:fanny anggita.


     Sekali lagi bagiku Hari yang biasa, terik seperti biasa, pelajaran membosankan seperti biasa, lelucon kering seperti biasa. Jarang sekali aku tersenyum karena suatu hal. mungkin teman temanku menganggap suatu keajaiban apabila melihatku tersenyum, apa lagi tertawa. Kebiasaanku hanya duduk di pinggiran jalan sambil melihat mobil berlalu lalang. apabila di kelas aku hanya tertidur tanpa peduli ancaman sang guru untuk mengeluarkanku dari kelas. Aku sudah terbiasa membolos apabila aku tak suka dengan guru atau mata pelajaran. Guru guru banyak yang cuci tangan dariku.anehnya aku termasuk murid terpandai di sekolah. sering Apapun aku membolos nilaiku tidak pernah dibawah 7. Orang tuaku?  terlalu sibuk mencari uang ke luar negri.
       mereka hanya memberiku materi untuk tetap hidup, dirumah hanya ada adik perempuanku dan pembantu rumah. ia lah yang selalu mengambil surat panggilan dan mengambil rapor dari sekolah. Ia tak pernah marah karena ia tidak mengerti rapor atau surat panggilan. Dari kecil aku jarang bertemu orangtuaku sampai saat ini aku baru bertemu mereka sebanyak 6 kali itupun hanya satu dua hari. Orangtuaku hanya berpesan pada mbok siti untuk menjagaku dan shendy. Ia tidak memiliki anak, suaminya sudah meninggal. Shendy adiku ia selalu perhatian padaku. Hanya ialah yang membuatku merasa memiliki keluarga. Ia selalu mengingatkanku untuk minum obat 6kali sehari, yang paling membingungkan adalah, ia selalu pergi ke gereja. Terkadang aku mendengar ia berdoa di kamar sebelum tidur dan meminta keluarga kami untuk bersama kembali. 
         Aku sering berfikir, mengapa tuhan selama ini tidak adil pada kami. kami memiliki orang tua tapi hubungan kami dengan mereka seperti saudara yang sangat jarang bertemu. Lagi pula aku tidak tahu apa yang patut di syukuri dari semua kehidupanku. Suatu hari shendy memintaku untuk mengantarnya ke gereja karena pacarnya sedang sakit. "Kak mau antar aku ke gereja? " "emang cowo lo kemana?" tanyaku. "Steve sedang sakit hari ini ia tidak ke gereja bersamaku" jawab shendy "lalu? Kenapa lo gak bolos gereja aja?" Godaku "aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk selalu ingat dan taat pada tuhan di segala kondisi" jawabnya "apa yang  gue lakukan disana sambil nunggu lo?" Tanyaku. "Tentu saja ikut berdoa, ku perhatikan kakak jarang sekali berdoa" sindirnya "uruslah urusanmu sendiri" kataku pedas. Setelah lima menit shendy memohon mohon agar diantar. Akhirnya aku menuruti permintannya. 
           Kami berangkat ke gereja. Aku hanya memakai kaus polos dan celana jeans. Berbeda dengan shendy  memakai pakaian sopan dan bersih. Aku dan shendy masuk ke dalam gereja. Kami duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Kami menunggu beberapa menit piano mulai dimainkan tiba tiba ada wanita muda yang berlari ke tempat dudukku . Ia bertanya "bolehkah aku duduk disini?".  "Tentu" jawabku tanpa menoleh.
         Aku sering melihat shendy berdoa ia memang berdoa sangat khusuk namun tak pernah air mata mengalir jika ia berdoa. Berbeda dengan wanita di sebelahku. Ia agaknya sangat menghayati doa doa yang dinyanyikan. Setelah selesai kegiatan khotbah dan menyanyi shendy tidak segera pulang ia mengajarkan anak anak di sekolah minggu. Aku ingin menunggu ditempat kami berdoa tadi. Namun disana masih ada orang. Aku menyadari orang itu adalah wanita yang duduk di sebelahku. Ia nampaknya masih berdoa. Aku melihat mulutnya masih bergerak berkata sesuatu sambil menangis. Aku berjalan mendekatinya perlahan tanpa suara, lalu duduk di sebelahnya. Agaknya ia belum menyadari  aku sudah berada di sebelahnya.ia terisak. "Gue mau tahu, kalau lo menangis sambil berdoa apakah tuhan akan dengerin lo dan mengabulkan permohonan lo?" Tanyaku perlahan. Ia terlonjak sedikit karena mendengarkan perkataanku"Apa maksudmu? Jadi kau tidak mempercayai keajaiban yang diberikan tuhan?" Tanyanya marah. "Coba pikirkan dan jawab. Apakah ia menjawab jika kita panggil." Kataku tak peduli. "Jadi, apa tujuanmu disini?" Tanyanya pedas. "Gua cuman mengantar ade gue ke gereja, cuma itu " kataku enteng. Ia bangkit lalu meninggalkanku sendiri. Aku diam Dan berfikir, jika tuhan memang ada mengapa ia tidak pernah membuatku merasa seperti manusia paling beruntung?. Lalu shendy datang, "bengong aja nih,  kaka udah minum obat belom?" Kata shendy menyodorkan air minum kearahku. Aku mengambilnya lalu ku minum obat yang ku kantongi.
    Waktu berjalan cepat. Ujian kelulusan datang dan lewat. Aku tak peduli dengan nilai, kami satu angkatan dinyatakan lulus. nilaiku sedikit bagus. Satu minggu setelah kelulusan aku mendapatkan surat dari kedua orang tuaku. Isinya terlihat tipis. Aku lalu aku membaca isi surat tersebut. Hanya secarik kertas kecil berisi. Kata singkat "selamat atas kelulusanmu , mom and dad" "hanya itu yang dapat mereka katakan???" Pikirku kecewa. Aku hanya meremas dan melempar surat tersebut. Aku tak ingin membalasnya.
Aku sangat kecewa dengam orangtuaku. Mungkin mereka tidak menyayangiku. Lalu aku bangkit dan berjalan gontai menuju kamarku dan tertidur.
     Aku terbangun oleh ketukan pintu shendy  "kak... bangun, obatnya udah diminum belum? Kakak..." katanya setengah berteriak.aku melirik jam,masih jam 3 sore "Iya di.. udah gue minum." gumanku berbohong . "Ohh yaudah... aku pergi ke luar ya, mbok siti ada di dapur" katanya lagi "iya" jawabku singkat lalu tertidur lagi. Aku terbangun dan pertama kali yang ku ingat adalah aku lupa meminum obatku. Aku bangkit dari tempat tidur dan mentalakan lampu. Kulihat jam lagi ,ternyata aku tertidur sangat pulas. Aku tidak mendengar mbok siti yang biasa membangunkanku jam 6. Aku keluar kamar. Aku berjalan menuju ruang makan. Disitu ada secarik kertas. "Kak, aku pergi sama steve, kemungkinan pulang malam. Jangan lupa minum obatnya, ya ,shendy. Aku mengambil obatku dan meminumnya. Tiba tiba mbok siti datang memberikanku semangkuk soup berisi penuh sayuran. Dengan malas kuhabiskan soup sayur tersebut. 
           Lalu aku bangkit dan duduk di sofa dan menyalakan tv. Aku mengganti channel namun tak ada acara yang bisa ku tonton. Aku mematikan tv tersebut dan ingin kembali ke kamar. Namun telpon rumah berdering, otomatis aku mengangkatnya. "Selamat malam, bisa bicara dengan siapa?" Tanyaku. "Mas, shendy kecelakaan" kata laki laki terdengar panik. "Ini siapa?" Tanyaku kaget. "Ini steve, pacarnya." Jawab laki laki itu "dimana dia sekarang? " teriaku. "Di ada di rumah sakit santa maria.dia sedang diperiksa oleh dokter." Katanya lagi. Aku Langsung menutup telpon tersebut. Aku bergegas mengambil jaket, celana jeansku dan kunci mobil. "Mbok, aku pergi keluar sebentar ya" teriaku keras keras. Lalu melesat pergi. Dengan kecepatan tinggi aku melesat ke runah sakit. Dadaku rasanya agak sesak. Akhirnya dalan waktu 15 menit aku sampai di rumah sakit. Aku bertanya dimana ruangan shendy. Tanpa berkata apapun aku langsung menuju kamarnya. Ketika aku memasuki kamarnya. Aku berjalan hening dan melihat shendy tertidur. Di tempat tidur paling pertama. 
         Steve berjalan ke sampingku lalu berbicara pelan," ada beberapa urat yang rusak akibat hantaman keras. Kemungkinan besar ia akan mengalami cacat seumur hidupnya". Aku terdiam aku merasa marah dan dadaku makin sesak. "Siapa kamu?" Tanyaku tiba tiba "maaf aku akan bertanggung jawab untuk segala administrasi yg harus dikeluarkan."kata lelaki itu. Aku langsung berjalan mendekatinya. "Memang sebaiknya begitu. Jika memang benar ia akan lumpuh diseumur hidupnya lo juga yang akan mengganti kakinya " kataku tajam. Dadanya makin sesak. "Sampai gue melihat gurat penderitaan diwajahnya dan air mata di matanya karena ini, gue akan membuat lo merasakan persis apa yang dirasakannya walaupun itu membuat gue terbunuh" kataku lagi. Laki laki itu tetap menunduk dan terdiam. Lalu aku keluar dari kamarnya. Aku berjalan di sepanjang koridor dan duduk di lobby rumah sakit tersebut. Aku berfikir,betapa jahatnya aku. 
           Aku ingin berteriak pada tuhan karena ketidakdilan ini. Lalu tiba tiba aku bertemu dengan wanita yang pernah ia temui dan bertengkar di gereja. Aku mendekatinya, "hei maaf yang di gereja, saat itu suasana hati gue lagi jelek" kataku. Wanita itu mendongak melihatmu lalu ia memejamkan matanya "kamu itu yang meragukan keagungan tuhan? " tanyanya. Aku merasa malu"ya, tapi waktu ini pikiran gue sedang kacau balau" kataku yang tidak sepenuhnya jujur. "Benarkah? Well... maafkan aku juga yang membentakmu." Katanya terlihat malu. "Boleh gue duduk?" Tanyaku "tentu saja" jawabnya mengambil tasnya dan memangkunya. "Nama gue dean nathanael" kataku mengulurkan tanganku "emily sarah" katanya tersenyum . Lalu hening "lo ngapain disini?" Tanyaku lagi. "Ayahku sakit disini dan aku sedang menunggu giliran untuk administrasi, kamu sendiri?" "Ade gue kecelakan jadinya gue yang nungguin" kataku. "Salam dari aku ke adik kamu ya..." katanya tersenyum lalu bangkit menuju loket. "Iya gue sampein salam lo" kataku  "bye.." senyumnya lagi "bye" balasku lalu berjalan kembali ke kamar shendy. Aku memasuki kamarnya ternyata shendy sudah bangun ia tersenyum padaku. Aku hanya menatapnya lalu mencium keningnya. "Hei kak ,mukamu pucat sekali kakak pasti belum minum obat" kata shendy mengelus pipiku. "Udah, lo gak apa apa kan?" Tanyaku "aku enggak apa apa kok" jawab shendy "lo mau makan gak? Gua beli roti" kataku memberikan roti isi selai srikaya favoritnya. Shendy mengambil nya "trims kak yaudah kakak pulang aja" katanya "kok gitu sih? Yamg jagain lo disini siapa?" Tanyaku. "Steve yang jaga aku tenang aja kak. Kalau ada apa apa steve langsung telepon kakak kok" kata shendy meyakinkan. " yaudah gua balik dulu" kataku lalu meninggalkan shendy.
     Keesokan harinya aku menjenguk shendy. Aku dan mbok siti memiliki kesepakatan untuk berjaga bergilir. Aku dari pagi hingga sore dan mbok siti dari sore hingga pagi lagi. Ketika aku memasuki kamar shendy sudah bangun. Matanya nampak bengkak aku mengerti dan tidak bertanya. Ia sedang sarapan. "Hai kak..." sapa shendy tersenyum. "Hai,selamat pagi. dokter bilang ingin memeriksa ulang kakimu setelah sarapan".kataku lalu menyiapkan kursi roda. "Baik kak" kata shendy patuh. Setelah sarapan shendy harus ke ruang dokter untuk diperiksa beberapa kali. Shendy terlihat pasrah dengan nasibnya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Aku sangat ingin menghiburnya. Aku tidak bisa melakukan apa apa selain mengecup kepalanya berkali kali. Selesai pemeriksaan shendy langsung boleh kembali ke kamarnya. Suster memanggilku untuk mengambil hasil pemeriksaan. Dengan berat aku berjalan ke ruang dokter. Bayangan buruk memenuhi  pikirannku akan vonis dokter. "Selamat siang..." kata dokter tersebut. "Bagaimana hasilnya" tanyaku tanpa memandang dokter tersebut. "Menurut hasil pemeeiksaan tadi pagi shendy memang akan mengalami kelumpuhan permanen karena beberapa syaraf di kaki mati dan tidak bekerja" kata dokter. Aku tidak kaget,karena aku sudah menyiapkan mental untuk menerima keadaan ini.  Aku bangkit dan pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan runyam.
"Kak gimana hasilnya"tanya shendy tersenyum. "Shendy, dokter bilang kamu akan lumpuh sementara waktu" kataku berat. Terlihat mata shendy yanh mulai berkaca kaca namuan ia tersenyum. "Tak apa apa, hanya sementara aku berada di kursi roda kan" katanya tersenyum manis.
    "Gue gak tahu kengapa shendy bisa mendapat cobaan seberat ini?" kataku di malam kelima sambil melihat shendy yang sedang tertidur. "Itu tandanya tuhan masih sayang dengannya." Kata steve tersenyum. "Benarkah? Dengan memberikannya cobaan seberat ini? Apakah tuhan masih sayang padanya" tanyaku ragu. "Tentu saja, jika ia tabah dan tidak menyerah, tuhan akan memberikannya keajaiban yang akan membuatnya makin percaya pada keajaiban tuhan dan rajin berdoa untuk mendapatkan keajaiban yang lainnya." Kata steve. Aku memandang shendy sebentar lalu memandang steve tegas. "Lo kasian sama dia?"tanyaku tegas. "Ya" jawab steve. "Kalau lo kasian sama dia berarti lo masih nganggep dia lemah" jawabku "Lo nyesel dengab keadaan shendy kayak gini?" tanyaku lagi. "Tidak. Aku menerimanya apa adanya" jawabnya tegas. "Baik kalau begitu. Lo harus jaga dia. Minimal setelah dia melewati penderitaan di kehidupan yang berbeda" kataku tegas sambil menepuk pundak steve. "Saya janji" kata steve tegas dan mantap. Aku tersenyum. "Terimakasih untuk menjadi bagian dari kebahagiaan shendy" kataku. "Terimakasih sudah mempercayakan shendy padaku". Dan tak lama kami bertiga pun tertidur.
    Aku terbangun oleh ketukan. Lalu masuklah suster membawa nampan sarapan. "Selamat pagi nona,tuan" sapa suster itu ramah. "Selamat pagi suster"jawab shendy. "Ini sarapannya" katanya sampbil menaruh nampan di meja sebelah tempat tidur. "Terimaksih suster" senyum shendy."sama sama" jawabnya lalu meninggalkan kamar. "Dimana steve?" Tanyaku "dia sedang sarapan di bawah" jawabnya mengambil minum. Aku mengambilkan nampan tersebut. "Sarapalah" kataku sambil menyodorkan nampannya. Lalu steve datang. "Kakak sarapan aja dulu" kata shendy. Aku hanya mengangguk lalu meninggalkan kamar menuju ke restaurant di lantai paling bawah. Aku memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka dan tidak orang di dalamnya. Ketika kutekan penutup pintu, tiba tiba ada suara wanita, "tolong tahan liftnya sebentar". Aku otomatis menahannya. Ternyata wanita itu adalah emily. Ia memandangku dengan bingung. "Hei. kamu dean nathanael kan?" Tanyanya heran. "Iya, lo emily kan" tanyaku. "Iya, panggil aja mili" katanya. "Bokap lo masih sakit?" "Iya, tapi hari ini dia udah boleh pulang kok" katanya. "Gue mau sarapan,mau ikut gk?" Tanyaku. "Boleh, mau sarapan dimana?" tanyanya "mau makan nasi goreng gak? gue yang traktir"kataku "aku sih apa aja" jawabnya. Lalu kami berjalan menuju restaurant tersebut. Kami memesan nasi goreng yang sama. "Minumnya apa?" Tanya pelayan tersebut sambil menulis pesanan tadi. "Cokelat panas satu" kata mili. "Cokelat dingin" kataku. "Kenapa pesen cokelat dingin,kan masih pagi" kata mili bingung. "Itu satu satunya minuman yang bisa ngehibur gue dan gue enggak suka panas atau hangat" jelasnya. "Kalau lo, kenapa suka sama cokelat panas" tanyaku."menutut aku sih cokelat itu minuman yang rumit. 
           Gak bisa dibilang pahit kayak kopi dan enggak bisa dibilang manis  kayak minuman yang lain. Gua milih panas karena cokelat hangat bisa menambah energy." Jelas mili. "Dari kapan kamu ada di rumah sakit" tanya mili. "Sekitar lima hari yang lalu" "lo?" Tanyaku "sekitar satu minggu yang lalu". "Emangnya bokap lo sakit apa?" "Ayahku kena serangan jantung" jelasnya. "Kok bisa?" Tanyaku. "Ayah sering kecapekan, terlalu memikirkan pekerjaan."katanya. "Oh iya ngomong ngomong rumah kamu dimana?" Tanya mili. Aku merogoh kantung mencari secarik kertas. "Lo bawa pulpen gak?" Tanyaku. Mili langsung mengambil pulpen di dalan tasnya. Aku langsung menulis alamat lengkap dengan no tlpku. "Punya lo mana?" Tanyaku meminta alamat dan no telepon. Mili langsung memberikan kartu namanya. "Kamu kuliah?" Tanya mili. "Enggak, gua enggak niat buat kuliah." Kataku memainkan jari. "Loh??? Kenapa enggak kuliah? Kuliah seru tau, temennya lebih banyak " kata mili. "Gue enggak tertarik sama sebanyak apapun temen, gue dari kecil emang enggak pernah punya temen" kataku "kalau pacar?" Godanya. "Pacar? Gila lo jaman gini orang udah banyak yang gak bener, dikasih kepercayaan malah berhianat" kataku masam. Lalu pelayan mengantarkan makanannya. Kami sarapan sambil mengobrol. Ternyata kamar ayahnya bersebelahan dengan kamar shendy. Jadi kami kembali ke kamar bersama sama. Ketika aku memasuki kamar kulihat raut muka shendy yang begitu senang. "Ada apa" tanyaku. "Kak nanti sore aku dibolehin pulang" kata shendy senang. "Ohhh... gue beres beres baju dulu deh" kataku. Lalu aku membereskan bajuku.        BERSAMBUNG....