Can You Guest What?
by:fanny anggita.
Sekali lagi bagiku Hari yang biasa, terik
seperti biasa, pelajaran membosankan seperti biasa, lelucon kering seperti
biasa. Jarang sekali aku tersenyum karena suatu hal. mungkin teman temanku
menganggap suatu keajaiban apabila melihatku tersenyum, apa lagi tertawa.
Kebiasaanku hanya duduk di pinggiran jalan sambil melihat mobil berlalu lalang.
apabila di kelas aku hanya tertidur tanpa peduli ancaman sang guru untuk
mengeluarkanku dari kelas. Aku sudah terbiasa membolos apabila aku tak suka
dengan guru atau mata pelajaran. Guru guru banyak yang cuci tangan
dariku.anehnya aku termasuk murid terpandai di sekolah. sering Apapun aku
membolos nilaiku tidak pernah dibawah 7. Orang tuaku? terlalu sibuk mencari uang ke luar negri.
mereka hanya memberiku materi untuk tetap hidup, dirumah hanya ada adik
perempuanku dan pembantu rumah. ia lah yang selalu mengambil surat panggilan
dan mengambil rapor dari sekolah. Ia tak pernah marah karena ia tidak mengerti
rapor atau surat panggilan. Dari kecil aku jarang bertemu orangtuaku sampai
saat ini aku baru bertemu mereka sebanyak 6 kali itupun hanya satu dua hari.
Orangtuaku hanya berpesan pada mbok siti untuk menjagaku dan shendy. Ia tidak
memiliki anak, suaminya sudah meninggal. Shendy adiku ia selalu perhatian
padaku. Hanya ialah yang membuatku merasa memiliki keluarga. Ia selalu
mengingatkanku untuk minum obat 6kali sehari, yang paling membingungkan adalah,
ia selalu pergi ke gereja. Terkadang aku mendengar ia berdoa di kamar sebelum
tidur dan meminta keluarga kami untuk bersama kembali.
Aku sering berfikir,
mengapa tuhan selama ini tidak adil pada kami. kami memiliki orang tua tapi
hubungan kami dengan mereka seperti saudara yang sangat jarang bertemu. Lagi
pula aku tidak tahu apa yang patut di syukuri dari semua kehidupanku. Suatu
hari shendy memintaku untuk mengantarnya ke gereja karena pacarnya sedang
sakit. "Kak mau antar aku ke gereja? " "emang cowo lo
kemana?" tanyaku. "Steve sedang sakit hari ini ia tidak ke gereja
bersamaku" jawab shendy "lalu? Kenapa lo gak bolos gereja aja?"
Godaku "aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk selalu ingat dan taat
pada tuhan di segala kondisi" jawabnya "apa yang gue lakukan disana sambil nunggu lo?"
Tanyaku. "Tentu saja ikut berdoa, ku perhatikan kakak jarang sekali
berdoa" sindirnya "uruslah urusanmu sendiri" kataku pedas.
Setelah lima menit shendy memohon mohon agar diantar. Akhirnya aku menuruti
permintannya.
Kami berangkat ke gereja. Aku hanya memakai kaus polos dan celana
jeans. Berbeda dengan shendy memakai
pakaian sopan dan bersih. Aku dan shendy masuk ke dalam gereja. Kami duduk di
salah satu bangku yang masih kosong. Kami menunggu beberapa menit piano mulai
dimainkan tiba tiba ada wanita muda yang berlari ke tempat dudukku . Ia
bertanya "bolehkah aku duduk disini?". "Tentu" jawabku tanpa menoleh.
Aku sering melihat shendy berdoa ia memang
berdoa sangat khusuk namun tak pernah air mata mengalir jika ia berdoa. Berbeda
dengan wanita di sebelahku. Ia agaknya sangat menghayati doa doa yang
dinyanyikan. Setelah selesai kegiatan khotbah dan menyanyi shendy tidak segera
pulang ia mengajarkan anak anak di sekolah minggu. Aku ingin menunggu ditempat
kami berdoa tadi. Namun disana masih ada orang. Aku menyadari orang itu adalah
wanita yang duduk di sebelahku. Ia nampaknya masih berdoa. Aku melihat mulutnya
masih bergerak berkata sesuatu sambil menangis. Aku berjalan mendekatinya
perlahan tanpa suara, lalu duduk di sebelahnya. Agaknya ia belum menyadari aku sudah berada di sebelahnya.ia terisak.
"Gue mau tahu, kalau lo menangis sambil berdoa apakah tuhan akan dengerin
lo dan mengabulkan permohonan lo?" Tanyaku perlahan. Ia terlonjak sedikit
karena mendengarkan perkataanku"Apa maksudmu? Jadi kau tidak mempercayai
keajaiban yang diberikan tuhan?" Tanyanya marah. "Coba pikirkan dan
jawab. Apakah ia menjawab jika kita panggil." Kataku tak peduli.
"Jadi, apa tujuanmu disini?" Tanyanya pedas. "Gua cuman
mengantar ade gue ke gereja, cuma itu " kataku enteng. Ia bangkit lalu
meninggalkanku sendiri. Aku diam Dan berfikir, jika tuhan memang ada mengapa ia
tidak pernah membuatku merasa seperti manusia paling beruntung?. Lalu shendy
datang, "bengong aja nih, kaka udah
minum obat belom?" Kata shendy menyodorkan air minum kearahku. Aku mengambilnya
lalu ku minum obat yang ku kantongi.
Waktu berjalan cepat. Ujian kelulusan
datang dan lewat. Aku tak peduli dengan nilai, kami satu angkatan dinyatakan
lulus. nilaiku sedikit bagus. Satu minggu setelah kelulusan aku mendapatkan
surat dari kedua orang tuaku. Isinya terlihat tipis. Aku lalu aku membaca isi
surat tersebut. Hanya secarik kertas kecil berisi. Kata singkat "selamat
atas kelulusanmu , mom and dad" "hanya itu yang dapat mereka
katakan???" Pikirku kecewa. Aku hanya meremas dan melempar surat tersebut.
Aku tak ingin membalasnya.
Aku
sangat kecewa dengam orangtuaku. Mungkin mereka tidak menyayangiku. Lalu aku
bangkit dan berjalan gontai menuju kamarku dan tertidur.
Aku terbangun oleh ketukan pintu
shendy "kak... bangun, obatnya udah
diminum belum? Kakak..." katanya setengah berteriak.aku melirik jam,masih
jam 3 sore "Iya di.. udah gue minum." gumanku berbohong . "Ohh
yaudah... aku pergi ke luar ya, mbok siti ada di dapur" katanya lagi
"iya" jawabku singkat lalu tertidur lagi. Aku terbangun dan pertama kali
yang ku ingat adalah aku lupa meminum obatku. Aku bangkit dari tempat tidur dan
mentalakan lampu. Kulihat jam lagi ,ternyata aku tertidur sangat pulas. Aku
tidak mendengar mbok siti yang biasa membangunkanku jam 6. Aku keluar kamar.
Aku berjalan menuju ruang makan. Disitu ada secarik kertas. "Kak, aku
pergi sama steve, kemungkinan pulang malam. Jangan lupa minum obatnya, ya
,shendy. Aku mengambil obatku dan meminumnya. Tiba tiba mbok siti datang
memberikanku semangkuk soup berisi penuh sayuran. Dengan malas kuhabiskan soup
sayur tersebut.
Lalu aku bangkit dan duduk di sofa dan menyalakan tv. Aku
mengganti channel namun tak ada acara yang bisa ku tonton. Aku mematikan tv
tersebut dan ingin kembali ke kamar. Namun telpon rumah berdering, otomatis aku
mengangkatnya. "Selamat malam, bisa bicara dengan siapa?" Tanyaku.
"Mas, shendy kecelakaan" kata laki laki terdengar panik. "Ini
siapa?" Tanyaku kaget. "Ini steve, pacarnya." Jawab laki laki
itu "dimana dia sekarang? " teriaku. "Di ada di rumah sakit
santa maria.dia sedang diperiksa oleh dokter." Katanya lagi. Aku Langsung
menutup telpon tersebut. Aku bergegas mengambil jaket, celana jeansku dan kunci
mobil. "Mbok, aku pergi keluar sebentar ya" teriaku keras keras. Lalu
melesat pergi. Dengan kecepatan tinggi aku melesat ke runah sakit. Dadaku rasanya
agak sesak. Akhirnya dalan waktu 15 menit aku sampai di rumah sakit. Aku
bertanya dimana ruangan shendy. Tanpa berkata apapun aku langsung menuju
kamarnya. Ketika aku memasuki kamarnya. Aku berjalan hening dan melihat shendy
tertidur. Di tempat tidur paling pertama.
Steve berjalan ke sampingku lalu
berbicara pelan," ada beberapa urat yang rusak akibat hantaman keras.
Kemungkinan besar ia akan mengalami cacat seumur hidupnya". Aku terdiam
aku merasa marah dan dadaku makin sesak. "Siapa kamu?" Tanyaku tiba
tiba "maaf aku akan bertanggung jawab untuk segala administrasi yg harus
dikeluarkan."kata lelaki itu. Aku langsung berjalan mendekatinya.
"Memang sebaiknya begitu. Jika memang benar ia akan lumpuh diseumur
hidupnya lo juga yang akan mengganti kakinya " kataku tajam. Dadanya makin
sesak. "Sampai gue melihat gurat penderitaan diwajahnya dan air mata di
matanya karena ini, gue akan membuat lo merasakan persis apa yang dirasakannya
walaupun itu membuat gue terbunuh" kataku lagi. Laki laki itu tetap menunduk
dan terdiam. Lalu aku keluar dari kamarnya. Aku berjalan di sepanjang koridor
dan duduk di lobby rumah sakit tersebut. Aku berfikir,betapa jahatnya aku.
Aku
ingin berteriak pada tuhan karena ketidakdilan ini. Lalu tiba tiba aku bertemu
dengan wanita yang pernah ia temui dan bertengkar di gereja. Aku mendekatinya,
"hei maaf yang di gereja, saat itu suasana hati gue lagi jelek"
kataku. Wanita itu mendongak melihatmu lalu ia memejamkan matanya "kamu
itu yang meragukan keagungan tuhan? " tanyanya. Aku merasa malu"ya,
tapi waktu ini pikiran gue sedang kacau balau" kataku yang tidak
sepenuhnya jujur. "Benarkah? Well... maafkan aku juga yang
membentakmu." Katanya terlihat malu. "Boleh gue duduk?" Tanyaku
"tentu saja" jawabnya mengambil tasnya dan memangkunya. "Nama
gue dean nathanael" kataku mengulurkan tanganku "emily sarah"
katanya tersenyum . Lalu hening "lo ngapain disini?" Tanyaku lagi.
"Ayahku sakit disini dan aku sedang menunggu giliran untuk administrasi,
kamu sendiri?" "Ade gue kecelakan jadinya gue yang nungguin"
kataku. "Salam dari aku ke adik kamu ya..." katanya tersenyum lalu
bangkit menuju loket. "Iya gue sampein salam lo" kataku "bye.." senyumnya lagi
"bye" balasku lalu berjalan kembali ke kamar shendy. Aku memasuki
kamarnya ternyata shendy sudah bangun ia tersenyum padaku. Aku hanya menatapnya
lalu mencium keningnya. "Hei kak ,mukamu pucat sekali kakak pasti belum
minum obat" kata shendy mengelus pipiku. "Udah, lo gak apa apa
kan?" Tanyaku "aku enggak apa apa kok" jawab shendy "lo mau
makan gak? Gua beli roti" kataku memberikan roti isi selai srikaya
favoritnya. Shendy mengambil nya "trims kak yaudah kakak pulang aja"
katanya "kok gitu sih? Yamg jagain lo disini siapa?" Tanyaku.
"Steve yang jaga aku tenang aja kak. Kalau ada apa apa steve langsung telepon
kakak kok" kata shendy meyakinkan. " yaudah gua balik dulu"
kataku lalu meninggalkan shendy.
Keesokan harinya aku menjenguk shendy. Aku
dan mbok siti memiliki kesepakatan untuk berjaga bergilir. Aku dari pagi hingga
sore dan mbok siti dari sore hingga pagi lagi. Ketika aku memasuki kamar shendy
sudah bangun. Matanya nampak bengkak aku mengerti dan tidak bertanya. Ia sedang
sarapan. "Hai kak..." sapa shendy tersenyum. "Hai,selamat pagi.
dokter bilang ingin memeriksa ulang kakimu setelah sarapan".kataku lalu
menyiapkan kursi roda. "Baik kak" kata shendy patuh. Setelah sarapan
shendy harus ke ruang dokter untuk diperiksa beberapa kali. Shendy terlihat
pasrah dengan nasibnya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Aku sangat ingin
menghiburnya. Aku tidak bisa melakukan apa apa selain mengecup kepalanya
berkali kali. Selesai pemeriksaan shendy langsung boleh kembali ke kamarnya.
Suster memanggilku untuk mengambil hasil pemeriksaan. Dengan berat aku berjalan
ke ruang dokter. Bayangan buruk memenuhi
pikirannku akan vonis dokter. "Selamat siang..." kata dokter
tersebut. "Bagaimana hasilnya" tanyaku tanpa memandang dokter
tersebut. "Menurut hasil pemeeiksaan tadi pagi shendy memang akan
mengalami kelumpuhan permanen karena beberapa syaraf di kaki mati dan tidak
bekerja" kata dokter. Aku tidak kaget,karena aku sudah menyiapkan mental
untuk menerima keadaan ini. Aku bangkit
dan pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan runyam.
"Kak
gimana hasilnya"tanya shendy tersenyum. "Shendy, dokter bilang kamu
akan lumpuh sementara waktu" kataku berat. Terlihat mata shendy yanh mulai
berkaca kaca namuan ia tersenyum. "Tak apa apa, hanya sementara aku berada
di kursi roda kan" katanya tersenyum manis.
"Gue gak tahu kengapa shendy bisa
mendapat cobaan seberat ini?" kataku di malam kelima sambil melihat shendy
yang sedang tertidur. "Itu tandanya tuhan masih sayang dengannya."
Kata steve tersenyum. "Benarkah? Dengan memberikannya cobaan seberat ini?
Apakah tuhan masih sayang padanya" tanyaku ragu. "Tentu saja, jika ia
tabah dan tidak menyerah, tuhan akan memberikannya keajaiban yang akan
membuatnya makin percaya pada keajaiban tuhan dan rajin berdoa untuk
mendapatkan keajaiban yang lainnya." Kata steve. Aku memandang shendy
sebentar lalu memandang steve tegas. "Lo kasian sama dia?"tanyaku
tegas. "Ya" jawab steve. "Kalau lo kasian sama dia berarti lo
masih nganggep dia lemah" jawabku "Lo nyesel dengab keadaan shendy
kayak gini?" tanyaku lagi. "Tidak. Aku menerimanya apa adanya"
jawabnya tegas. "Baik kalau begitu. Lo harus jaga dia. Minimal setelah dia
melewati penderitaan di kehidupan yang berbeda" kataku tegas sambil
menepuk pundak steve. "Saya janji" kata steve tegas dan mantap. Aku
tersenyum. "Terimakasih untuk menjadi bagian dari kebahagiaan shendy"
kataku. "Terimakasih sudah mempercayakan shendy padaku". Dan tak lama
kami bertiga pun tertidur.
Aku
terbangun oleh ketukan. Lalu masuklah suster membawa nampan sarapan.
"Selamat pagi nona,tuan" sapa suster itu ramah. "Selamat pagi
suster"jawab shendy. "Ini sarapannya" katanya sampbil menaruh
nampan di meja sebelah tempat tidur. "Terimaksih suster" senyum
shendy."sama sama" jawabnya lalu meninggalkan kamar. "Dimana
steve?" Tanyaku "dia sedang sarapan di bawah" jawabnya mengambil
minum. Aku mengambilkan nampan tersebut. "Sarapalah" kataku sambil
menyodorkan nampannya. Lalu steve datang. "Kakak sarapan aja dulu"
kata shendy. Aku hanya mengangguk lalu meninggalkan kamar menuju ke restaurant
di lantai paling bawah. Aku memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka dan
tidak orang di dalamnya. Ketika kutekan penutup pintu, tiba tiba ada suara
wanita, "tolong tahan liftnya sebentar". Aku otomatis menahannya.
Ternyata wanita itu adalah emily. Ia memandangku dengan bingung. "Hei.
kamu dean nathanael kan?" Tanyanya heran. "Iya, lo emily kan"
tanyaku. "Iya, panggil aja mili" katanya. "Bokap lo masih
sakit?" "Iya, tapi hari ini dia udah boleh pulang kok" katanya.
"Gue mau sarapan,mau ikut gk?" Tanyaku. "Boleh, mau sarapan
dimana?" tanyanya "mau makan nasi goreng gak? gue yang traktir"kataku
"aku sih apa aja" jawabnya. Lalu kami berjalan menuju restaurant
tersebut. Kami memesan nasi goreng yang sama. "Minumnya apa?" Tanya
pelayan tersebut sambil menulis pesanan tadi. "Cokelat panas satu"
kata mili. "Cokelat dingin" kataku. "Kenapa pesen cokelat
dingin,kan masih pagi" kata mili bingung. "Itu satu satunya minuman
yang bisa ngehibur gue dan gue enggak suka panas atau hangat" jelasnya.
"Kalau lo, kenapa suka sama cokelat panas" tanyaku."menutut aku
sih cokelat itu minuman yang rumit.
Gak bisa dibilang pahit kayak kopi dan
enggak bisa dibilang manis kayak minuman
yang lain. Gua milih panas karena cokelat hangat bisa menambah energy."
Jelas mili. "Dari kapan kamu ada di rumah sakit" tanya mili.
"Sekitar lima hari yang lalu" "lo?" Tanyaku "sekitar
satu minggu yang lalu". "Emangnya bokap lo sakit apa?"
"Ayahku kena serangan jantung" jelasnya. "Kok bisa?"
Tanyaku. "Ayah sering kecapekan, terlalu memikirkan
pekerjaan."katanya. "Oh iya ngomong ngomong rumah kamu dimana?"
Tanya mili. Aku merogoh kantung mencari secarik kertas. "Lo bawa pulpen
gak?" Tanyaku. Mili langsung mengambil pulpen di dalan tasnya. Aku
langsung menulis alamat lengkap dengan no tlpku. "Punya lo mana?"
Tanyaku meminta alamat dan no telepon. Mili langsung memberikan kartu namanya.
"Kamu kuliah?" Tanya mili. "Enggak, gua enggak niat buat
kuliah." Kataku memainkan jari. "Loh??? Kenapa enggak kuliah? Kuliah
seru tau, temennya lebih banyak " kata mili. "Gue enggak tertarik
sama sebanyak apapun temen, gue dari kecil emang enggak pernah punya
temen" kataku "kalau pacar?" Godanya. "Pacar? Gila lo jaman
gini orang udah banyak yang gak bener, dikasih kepercayaan malah
berhianat" kataku masam. Lalu pelayan mengantarkan makanannya. Kami
sarapan sambil mengobrol. Ternyata kamar ayahnya bersebelahan dengan kamar
shendy. Jadi kami kembali ke kamar bersama sama. Ketika aku memasuki kamar
kulihat raut muka shendy yang begitu senang. "Ada apa" tanyaku.
"Kak nanti sore aku dibolehin pulang" kata shendy senang.
"Ohhh... gue beres beres baju dulu deh" kataku. Lalu aku membereskan
bajuku. BERSAMBUNG....